Medan, 30/6 (indonesiaaktual) – PT Agincourt Resources membangun Taman
Ecobrick di Batang Toru dengan melibatkan masyarakat untuk mengelola S
sampah plastik. Sebanyak 10.000 botol ecobrick hasil partisipasi masyarakat kini
diwujudkan menjadi Taman Ecobrick di Sopo Daganak, Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumut (
Sumatera Utara.
Inisiatif PT Agincourt Resources itu berhasil mengurangi 2,5 ton sampah plastik sekaligus mendorong budaya pengelolaan sampah berbasis masyarakat sebagai bagian dari penutupan rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026.
Direktur Bank Sampah Yamantab, Damai Mendrofa di Batang Toru, Selasa (30/6) mengatakan, pencapaian 10.000 ecobrick
itu adalah bukti nyata bahwa kebiasaan masyarakat bisa diubah secara bertahap. Capaian itu merupakan langkah pertama dalam Program Ecobrick “Dari Hati Untuk Bumi” yang dibesut
PT Agincourt Resources (PTAR) pada 2025.

“Dulu plastik rumah tangga itu sampah yang dibuang begitu saja. Sekarang masyarakat
menyimpannya, memilahnya, lalu mengisinya menjadi ecobrick dan hasilnya bisa kita lihat
sendiri, menjadi taman yang dapat dinikmati masyarakat,”ujar Damai saat peresmian Taman
Ecobrick, Batang Toru, Tapanuli Selatan, Selasa.
Selain menjadi taman, ribuan ecobrick tersebut digunakan sebagai penanda visual (signage)
untuk Martabe Cocoa dan Martabe Farm, program pengembangan ekonomi lokal PT
Agincourt Resources yangberada dekat dengan Sopo Daganak.
Program pengumpulan sampah plastik dan pengolahannya menjadi ecobrick itu melibatkan
Bank Sampah Yamantab bersama empat bank sampah lokal di Batang Toru, yakni Gocap,
Satahi, Naposo Hamubaon, dan Rap Hita Paias.
Senior Manager Corporate Communications PT Agincourt Resources, Katarina Siburian
Hardono, mengatakan, Taman Ecobrick sebagai simbol dari prinsip ekonomi sirkular yang ingin
dibangun perusahaan bersama masyarakat. Bank sampah lokal turut dilibatkan, bahkan tiga
di antaranya menjadi mitra binaan perusahaan saat ini.

“Taman Ecobrick bukan sekadar hasil pengelolaan sampah plastik, tetapi bukti bahwa
perubahan dapat dimulai dari langkah sederhana yang dilakukan bersama,” katanya.
Katarina Siburian menyebutkan, bagi Agincourt Resources, keberhasilan program itu tidak hanya diukur dari jumlah ecobrick yang terkumpul, tetapi juga dari tumbuhnya kebiasaan masyarakat untuk mengelola sampah secara mandiri dan
berkelanjutan.

# Masyarakat Ikut Awasi Lingkungan #

Selain melibatkan masyarakat dalam melestarikan lingkungan hidup,PT Agincourt Resources juga mengajak masyarakat berjalan bersama di sisi pengawasan lingkungan.
Di kawasan konservasi, 14 orang tim SMART Patrol yang beberapa di antaranya mantan pemburu dan penebang liar berpatroli setiap hari di Area Konservasi Aek Pahu dan Ulu Ala.
Salah satunya, Parman Sitanggang, warga Desa Wek 4, yang sudah hampir dua tahun bertugas menjaga kawasan yang dulu menjadi tempatnya mencari kayu dan berburu.
Tugasnya mencatat setiap temuan di lapangan, mulai dari satwa liar, indikasi pembalakan,
hingga aktivitas perburuan. “Kalau ada temuan seperti satwa, penebangan, atau perambahan, tinggal difoto lalu disimpan di aplikasi beserta titik koordinatnya,” ujarnya.

Di sisi lain, pengawasan kualitas air sisa proses Tambang Emas Martabe yang dialirkan ke
Sungai Batang Toru turut melibatkan perwakilan masyarakat dari desa-desa lingkar tambang.
Ali Marhot Siregar salah satunya.
Warga Desa Hapesong Baru itu sejak 2024 menjadi bagian dari tim terpadu pemantau kualitas air.
“Pengambilan sampel air di beberapa titik selalu dilakukan setiap bulan, kemudian diperiksa
di laboratorium independen di Jakarta. Hasilnya diumumkan kepada masyarakat setiap tiga
bulan,” katanya.
Tidak hanya meresmikan Taman Ecobrick, pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia
2026, PT Agincourt Resources
menggelar Aksi Bersih Konservasi Mangrove Lestari dan Pelatihan Membuat
Terumbu Karang Artifisial di Tapanuli Tengah yang diikuti masyarakat dan karyawan. (lis)

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *