Medan, 30/6 (indonesiaaktual) – Asosiasi
Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) Sumatera Utara (Sumut) berharap pemerintah terus memperbaiki infrastruktur khususnya jalan di kawasan produksi/produsen komoditas kopi.
“Infrastruktur jalan di kawasan produsen kopi di Sumut dan termasuk Aceh semakin parah pascabanjir November 2025 sehingga bukan saja mengurangi volume perdagangan kopi petani, tetapi juga membuat harga jual petani semakin mahal akibat biaya produksi yang tinggi,”ujar Ketua BPD AEKI Sumut, Saidul Alam di Medan, Selasa (30/6).
Dia yang didampingi Dewan Pertimbangan AEKI Sumut, Suyanto Hussein, Wakil Ketua Bidang Luar Negeri Michael Wijaya, Kepala Kompartemen Organisasi dan Pembinaan Anggota Tri Darma Hadi, Ketua Kompartemen Industri dan Hilir Fadli Hazmi, dan Sekretaris BPD AEKI Sumut Satria, memberi contoh, petani kopi di wilayah Pagur, Mandailing Natal (Madina) Sumut harus menempuh perjalanan yang sukar untuk memanen dan membawa hasil kopinya dari areal pertanian mereka.
Meski jaraknya tidak terlalu jauh atau sekitar 12 km, tetapi kondisi jalan yang rusak membuat perjalanan sangat sukar apalagi saat musim hujan.
Saat hujan turun, jalan berubah menjadi aliran air sehingga tidak dapat dilalui. Akibatnya, kata dia, petani tidak bisa pergi memanen, atau harus menginap di kebun untuk bisa membawa hasil panen besok atau beberapa hari ke depannya.

Karena jalan yang jelek, hasil panen juga tidak bisa dipanen dan diangkut dalam jumlah maksimal.
Hal itu tentunya bukan hanya berpengaruh pada jumlah hasil panen petani, tetapi membuat biaya produksi yang lebih tinggi.
“Akibat biaya produksi yang tinggi itulah yang kerap membuat harga jual kopi dari Sumut atau daerah lain di Indonesia lebih mahal dari harga kopi negara lain, “katanya.
Harga yang lebih mahal, ujar Suyanto kerap membuat kopi asal Indonesia sulit bersaing.
“Syukur, kopi Indonesia khususnya Arabika asal Sumatera seperti Mandhailing dari Sumut dan Gayo dari Aceh menang di ‘taste’/rasa yang tidak ada di kopi negara lain sehingga pabrikan kopi tetap tergantung dengan kopi asal Sumatera termasuk untuk bahan campuran (blend), ” katanya.
Wakil Ketua Bidang Luar Negeri Michael Wijaya menyebutkan, harga jual kopi Sumatera yang lebih mahal itu tidak bisa dibiarkan terus.
Alasan Michael karena akhirnya harga kopi yang lebih mahal sulit bersaing atau bisa jadi suatu saat ditinggalkan importir/pabrikan.
‌”Harus diingat, pasar atau penikmat kopi kualitas premium masih sangat kecil dibandingkan kopi murah (sachet), “katanya.

// Dukungan Pemerintah //

Saidul Alam menegaskan, pembangunan infrastruktur sangat tergantung dari pemerintah.
” Pengusaha bersyukur, Gubernur Sumut Bobby Nasution terus membenahi infrastruktur jalan di berbagai kabupaten/kota.Harapannya pembangunan infrastruktur itu juga hingga ke arah pertanian/perkebunan petani,”katanya..
Dia menyebutkan, akibat jalan yang rusak, petani kopi di kawasan perbatasan Sumut -Sumbar (Sumatera Barat) lebih memilih menjual kopinya ke Sumbar.
Padahal, kata Alam, di Sumbar tidak ada eksportir kopi sehingga kopi itu bukan bisa langsung di ekspor, tetapi dijual lagi ke pedagang atau eksportir kopi Sumut.
“Dengan mata rantai perdagangan yang panjang itu akhirnya harga kopi tersebut menjadi lebih mahal,” ujar Saidul.
Ketua Kompartemen Industri dan Hilir, Fadli Hazmi menegaskan, komoditas kopi masih sangat menjanjikan karena kebutuhan di dalam dan luar negeri terus meningkat.
Pasar ekspor kopi terbesar Sumut masih ke Amerika Serikat.

“AEKI berharap pemerintah terus memperbaiki dan meningkatkan infrastruktur jalan dan juga termasuk pelabuhan sebagai ujung tombak perdagangan di dalam maupun luar negeri, ” ujar Fadli.
Kepala Kompartemen Organisasi dan Pembinaan Anggota Tri Darma Hadi, menyebutkan, harga kopi di tingkat petani masih cukup bagus.
Meski ada penurunan, tetapi tidak besar.
“AEKI Sumut juga tetap mengingatkan agar eksportir memenuhi persyaratan ekspor, untuk menjaga nama baik Indonesia, maupun Sumut dan termasuk perusahaan eksportir, ” katanya.
Meski diakui, pascabencana banjir, eksportir sering was-was karena khawatir tidak memenuhi kontrak ekspor kopi akibat pasokan tidak lancar dampak jalan rusak. (lis)

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *