Medan, 9/9 (indonesiaaktual) – Menanam pohon di kawasan pesisir tidak cukup dengan memilih bibit yang tampak sehat, lalu memasukkannya ke lubang tanam. Di Belawan, setiap keputusan perlu memperhitungkan rob, salinitas, drainase, angin, ruang akar, serta keselamatan pengguna jalan.Pesan itulah yang mengemuka dalam Pelatihan Penghijauan dan Penanaman Pohon Berbasis Masyarakat yang diselenggarakan Baitulmaal Muamalat (BMM), mitra pelaksana PT Pelindo Regional 1di Kantor Camat Medan Belawan, Rabu (9/9/2026).Kegiatan itu merupakan tindak lanjut peringatan Hari Lingkungan Hidup sekaligus bagian dari upaya memperkuat kesadaran lingkungan masyarakat di sekitar Medan Belawan. Menurut Onrizal, PhD, dosen Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara ((USU) yang tampil sebagai narasumber dengan materi tentang penanaman pohon pada median dan tepi jalan Medan Belawan, ukuran keberhasilan bukan berapa batang yang ditanam hari ini.“Melainkan berapa pohon yang tiga tahun lagi masih hidup, sehat, stabil, tidak mengganggu infrastruktur, dan benar-benar berfungsi,” ujar Onrizal. Oleh karena itu, katanya, perlu menekankan prinsip right tree, right place, right care: kenali tapaknya terlebih dahulu.Tentukan fungsi yang dibutuhkan, baru pilih jenis pohonnya.Ruang tumbuh, kondisi drainase, paparan rob dan garam, jaringan utilitas, serta jarak pandang pengendara harus diperiksa sebelum penanaman dimulai.“Belawan memang bukan tapak jalan biasa. Panas dari aspal dan beton, tanah yang padat, ruang perakaran yang sempit, angin, genangan, dan banjir pesisir dapat menekan pohon secara bersamaan. Pohon yang tahan kering atau mampu menghadapi percikan garam belum tentu sanggup bertahan ketika akarnya berulang kali terendam air asin, “ujarnya. Onrizal menyebutkan, tiga jenis pohon dengan peran berbeda.Tiga jenis pohon itu yakni tabebuya kuning (Handroanthus chrysotrichus), angsana (Pterocarpus indicus), dan gelodokan (Monoon longifolium).Masing-masing tanaman itu, ujar Onrizal memiliki keunggulan sekaligus batas.Dengan kata lain, katanya, tidak ada satu jenis yang cocok untuk semua lokasi. Kalau Tabebuya dapat menjadi pilihan ornamental dengan kanopi sedang pada tempat yang terbuka dan berdrainase baik. maka Angsana menawarkan naungan yang jauh lebih lebar, tetapi juga menuntut ruang akar dan tajuk yang lebih besar.Oleh karena itu, jenis itu lebih sesuai untuk jalur hijau yang lapang. Sementara itu, gelodokan, terutama kultivar ‘Pendula’, tumbuh ramping dan lebih hemat ruang, meskipun daya naung ke samping tidak sebesar angsana.Namun, ada batas yang tidak boleh ditawar. Pada median selebar kurang dari dua meter, ketiga jenis itu tidak direkomendasikan. Vegetasi rendah lebih aman selama tidak menghalangi pandangan.Kehati-hatian yang sama berlaku di lokasi yang berulang kali terkena rob atau memiliki kadar garam tinggi.“Penanaman massal di area semacam ini sebaiknya menunggu hasil uji terbatas, pengukuran tanah dan air, serta pemantauan yang memadai, ” ujar Onrizal. Penghijauan Sebagai Investasi Jangka Panjang Dalam pelatihan itu, peserta juga diajak melihat penanaman sebagai proses jangka panjang.Lubang tanam yang besar belum tentu menyediakan ruang akar yang memadai.“Yang lebih menentukan adalah volume tanah yang benar-benar bisa ditembus akar, drainase yang bekerja, mutu bibit, posisi leher akar, penggunaan mulsa, penyiraman, pembentukan tajuk, dan perlindungan setelah penanaman,”katanya. Dia menyebutkan, pemantauan idealnya berjalan sejak pohon ditanam hingga usia 36 bulan.Persentase hidup, ujar Ontizal,tetap penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran.Kondisi tajuk, pertumbuhan, stabilitas, kerusakan, potensi konflik dengan perkerasan atau utilitas, serta fungsi pohon bagi lanskap perlu dicatat secara berkala.“Catatan lapangan itulah yang kemudian dipakai untuk menentukan perawatan, mengganti pohon yang gagal, atau memperbaiki desain penanaman berikutnya, ” katanya. Onrizal berharap, pembekalan itu diharapkan membantu masyarakat, pemerintah setempat, dan Pelindo bekerja dengan pemahaman teknis yang sama.Alasan dia, pohon jalan bukan sekadar penghias koridor.“Jika dipilih dan dirawat dengan tepat, pohon dapat memberi keteduhan, memperbaiki kenyamanan lingkungan, dan menjadi bagian penting dari infrastruktur hijau pesisir Belawan, ” ujar Onrizal. (lis) Navigasi pos Yayasan Green Justice Indonesia Sudah Distribusikan10.000 Bibit Kemenyan Untuk Masa Depan Hutan Adat Sumut Akademisi :USU Onrizal: Mangrove Sumatera Tidak Cukup Hanya Ditanami, Tapi Pengelolaannya Harus Menjaga Ekologi dan Keadilan Sosial